Sebuah Renungan


Akhirnya…..

Aku berusaha membahasakan keputusasaanku dengan kata-kata. Namun sayang sekali aku selalu gagal. Belum ada yang mengerti perasaanku dengan nada yang kuinginkan. Semuanya tampak sumbang dan tak beraturan. Saat aku mulai lantang menyuarakan perasaanku aku menemukan suara-suara itu memantul mengejekku.

Malam rabu 120709

Hutan belantara di sudut kenangan.
Masihkah itu tampak berharga di samping cinta pendaki pada ranselnya. Aku masih menyusuri kelokan yang sama saat aku kembali tersandar terengah tanpa ujung kepastian.
Aku belajar banyak hal ketika orang – orang mengatakan aku kehilangan banyak hal dan tampak bodoh.

Bagian lain

Menyeruput kenangan disela tegukan susu asam.
Mempecundangi diri dari balikan kertas koran tua penuh rayap menjijikkan.
Masihkah aku menganggap perlu bertamasya dalam ruang pengap prasasti masa lalu. Apa yang kutunggu??
Berjalan ke luar tak menakutkan sama sekali.
Tak ada setan karena setan tak muncul siang hari.
Dan aku bukan kelelawar malam yang senang berkeliaran pada kegelapan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s